Wednesday, October 5, 2016

Hidup yang Rukun

Mazmur 133:1-3

Setiap kita melihat firman Tuhan, tidak boleh kita lupa bahwa semua firman Tuhan itu adalah karya dalam otoritas Tuhan. Tetapi jangan lupa, Tuhan juga menggunakan setiap penulis firman Tuhan sehingga firman Tuhan itu berbobot. Paling pantas memang Daud menulis kebenaran ini sehingga Tuhan boleh menyatakan maksud-Nya supaya jelas kepada setiap umat manusia. Segala sesuatu yang bernilai, berharga dicari oleh umat manusia dan itu ada pada Daud. Dari semua penilaian dan penghargaan yang dimiliki Daud, alamat kekaguman dan pujian bukan di kekayaan, kepopuleran, penghargaan, pengakuan, kekuasaan, kedudukan tetapi dari mulut bibir yang memiliki segalanya ini menurut ukuran dunia dia katakan: “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” Dalam hal ini bukan berlian, uang atau rumah tetapi “apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun”, itulah yang paling tinggi. Tetapi seringkali kita ditipu karena yang utama dijadikan yang tidak utama sebaliknya yang tidak utama dijadikan utama. Kerukunan bisa dikorbankan demi kekayaan, kerukunan dikorbankan demi kepopuleran, kerukunan dikorbankan demi kedudukan. Siapapun kita yang tidak rukun, kita tidak mengerti apa yang paling indah di dalam hidup ini. Biarpun kita memiliki apartemen yang paling mewah, mobil yang paling mewah. Setiap orang yang rukun, dia mengerti indahnya hidup dalam kasih. Allah sempurna, Dia ciptakan manusia tentu dibuktikan dengan kesempurnaan, Allah yang sempurna, Dia buktikan dengan karya-Nya dengan menciptakan manusia segambar dengan Allah. Apa itu gambar Allah? 1 Yohanes 4:8 “Allah adalah kasih.” Begitu manusia hidup dalam kasih, itulah manusia Allah. Rohani seseorang, bukan kelihatan di banyak kotbahnya, rohani seseorang bukan kelihatan ketika mendoakan banyak orang sakit sembuh tetapi rohani seseorang kelihatan seberapa sungguh dia taat kepada Tuhan dan itu disimpulkan dengan kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri dan orang yang melakukan ini tentu hidupnya pasti rukun. Orang mengenal Allah, tidak bisa mengenal-Nya kalau sekedar hebat menggali isi Alkitab dalam Bahasa Ibrani dan Yunani, tetapi mengenal Allah adalah ketika kita mengerti firman Tuhan dan melakukannya dalam kasih. Siapa hidup dalam kasih, ia pasti mengenal Allah. Dan di balik kerukunan itulah cerminan dari kasih. Semua orang akan tahu bahwa kekayaan, kedudukan, popularitas, pengakuan bukan jawaban. Umumnya semua orang sadar itu bukan jawaban dan bernilai setelah dia mati. Kalau setelah mati baru sadar, ini pun terlambat. Hal ini menjadi mayoritas di kalangan orang Kristen, itu sebabnya Yesus berkata: “Banyak yang terpanggil, sedikit yang dipilih.

Sungguh alangkah baiknya dan indahnya” tidak ada kalimat dalam Alkitab yang begitu lengkap penghargaannya dibanding kalimat dalam Mazmur 131:1 yang dialamatkan pada kerukunan. Maka Daud mengerti akan hal ini karena dia pernah mempunyai rumah tangga yang tidak rukun ketika Absalom anaknya pernah memburu Daud untuk dibunuh karena Absalom berkeinginan untuk menggulingkan ayahnya. Tetapi akhinya Daud mengerti bahwa yang paling berbahagia adalah rukun. Tetapi kata kuncinya “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila…” Kata apabila menunjukkan bahwa semua manusia tidak punya mental rukun. Karena setiap orang yang telah jatuh dalam dosa, orang itu dikuasai dosa biarpun ia bertobat lahir baru tanpa proses, seperti firman Tuhan katakan: Hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus di dalamku” maka seringkali yang menguasai kita adalah “Egosentris” bukan “Theosentris” oleh karena itu Yesus katakan: “Barangsiapa mengikut Aku, ia harus menyangkal diri” karena diri kita tidak mempunyai mental kasih, mental kita tidak ada yang mental rukun karena sangat kompleks. Di satu sisi kita mau rukun sepanjang orang itu cocok dengan kita. Oleh karena itu banyak orang Kristen walaupun lahir baru, kalau tidak tuntas dalam proses pembaruan budinya, tidak mau bertumbuh ke arah kedewasaan rohani, pada hakekatnya kita dengan agama lain punya pola hidup yang sama. Tersirat dan tersurat secara langsung atau tidak langsung kita punya moto: “Kalau kamu baik maka aku baik tetapi kalau kamu jahat maka aku bisa lebih jahat.”

Bagaimana orang bisa hidup rukun? Jawabannya adalah sangkal diri, membalas kejahatan dengan kebaikan. Kristus berdiam di dalam diri kita dan kita diproses. Kita secara progresif harus mampu karena tidak mungkin Tuhan menyuruh kita kalau kita tidak mampu. Kita hanya mau rukun kepada orang yang baik dengan kita, yang cocok dengan kita. Oleh karena itu, rukunlah dengan dimulai dari rumah tangga. Setiap orang yang hidup rukun, selalu Yesus yang ditinggikan karena Dialah kepala Gereja, Kepala orang percaya. Tanpa kerukunan, suka tidak suka kita pasti mencuri kemuliaan. Itu sebabnya dalam Gereja tidak ada orang yang paling penting dan tidak ada orang yang kurang penting karena semua sama-sama penting. Itu sebabnya Tuhan memberi penghargaan terhadap mereka yang tertulis dalam ayat 2. “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.” Allah memberkati Bangsa Israel melalui imam, tanpa itu Allah tidak menurunkan berkat-Nya kepada Bangsa Israel. Dan biasanya berkat itu turun ketika imam diurapi dengan minyak. Maka diterjemahkan lebih lanjut pada ayat 3: “Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.” Ini menunjukkan berkat yang sangat melimpah sampai ke gunung-gunung, artinya itu menceritakan betapa pintarnya orang yang rukun dalam menyikapi berkat yang indah karena tanpa itu, tidak ada orang yang mempunyai berkat yang indah. Ini berbicara berkat kehidupan untuk selama-lamanya dan ini berkat yang paling tinggi. Makanya dengan ayat 2 & 3, pernyataan pernghargaan Allah terhadap rukun, menunjukkan kerukunanlah yang paling disukai Tuhan. Pertanyaannya bagi kita, dalam hal apa kita sulit hidup rukun? Kalau kita mau rukun, jangan tuntut orang sekitar kita berubah tetapi tuntutlah diri kira berubah karena itu dasar hukum. Dengan berubah paradigma kita, tata nilai atau pandangan hidup kita juga berubah. Maka dari itu jangan menjadi serupa dengan dunia ini. Bukan uang, merek mobil bagus yang terutama tetapi kerukunan yang turutama. “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.

Catatan ini adalah ringkasan khotbah Pdt. Ridwan Hutabarat dalam warta GDI no. 1238/XVI/2 Oktober 2016

Wednesday, June 22, 2016

Secangkir teh hangat

Bolehkah aku menikmati secangkir teh di tengah cuaca hujan ini? Secangkir teh hangat saja.

Bolehkah aku menikmati kue bolu lemon di piring kecil itu? Sepotong saja agar laparku tertunda.

Bolehkah aku melihat ke luar jendela? Hanya sesaat menikmati indah pemandangan di luar sana.

Bolehkah aku membuka jendela? Agar bisa kuhirup udaranya yang sejuk.

Bolehkah aku memanggil beberapa sahabatku? Aku ingin mereka menikmati apa yang kunikmati saat ini.

Bolehkah kamu tetap berada di sisiku? Agar bertambah satu orang temanku.

Tuesday, June 14, 2016

Biarkan ku bernafas

Sungguh hari yang panas. Kuberjalan jauh mencari sumber kehidupan.
Dari jauh terlihat aliran sungai itu. Tersenyum, dengan semangat ku berlari.
Kupegang airnya. Hangat di antara jemari.
Rasanya ingin mendinginkan seluruh tubuh. Ke dalamnya pun ku masuk.
Berendam. Menikmati aliran yang menyejukkan.
Kubiarkan diriku terbawa. Terapung sambil melihat pepohonan di sisi sungai.
Tiba-tiba arus semakin deras. Terlambat ku menepi.
Coba meraih apa saja. Dan kugapai sebuah akar rambat.
Arus semakin kuat, deras, kencang. Peganganku menguat.
Air semakin tinggi. Aku tenggelam.
Kucoba naik untuk mendapatkan udara. Satu nafas panjang.
Air kembali menyusut, namun arus tetap kencang. Dengan tubuh kuyup kukumpulkan setiap tenaga.
Berusaha ke tepi. Berpegangan pada akar.
Suara gemuruh itu datang. Arus yang kuat terlihat mendekat.
Kupegang erat akar. Tubuhku hampir dibawanya serta.
Sedikit lagi tanganku terlepas. Tak kuat menahan pegangan.
Di dalam, air menggoncang tubuh. Tertampar oleh batu dan kayu.
Keras. Sakit.
Tolong, kuingin bernafas lagi. Tolong, kuingin berlari lagi.
Peganganku jadi semakin kuat. Yang kutunggu hanya arus yang tenang.

Pic: phys.org

Friday, April 27, 2007

Go Girl!

In my opinion, reaching something you want is not an easy task. A sacrifice is needed. But the most important, is to have a willing to reach what you want. A willing that based from other’s drive inside us to do some changes. I feel that, exactly when someone change my life. He’s just standing there and changes my view of life. For me, it’s unbelievable.

He Is Life..

When I feel empty, the one I could remember was him. He was the one who accompany me when I lost my control of my own soul. I just thought about the way how I could survive and pass all of predicament-all of things get in the way and challenges which broke me down. He was there in front of my eyes. He taught me how weakness could be my power to do better. For me he was a new shine in my life. He took me to think more critical and to be someone beyond my own thought. He someone I don’t know, exists in my life. I want to get to know him, but I couldn’t. I don’t always meet him. I don’t know where he is. I don’t know lots things about him. I’ve tried to forget him, but I couldn’t. He enters my life, and made me someone new. He saw me, then not. He was playing with my sight on purpose. He saw me in the corner of his eye, then running away from me. He knew I was there, and smiled seeing me coming. He thinks by using both of his brain. He is smart; I want to be like him. He makes me feel so happy. A mystery that will never be solved, is letting him enters my world. He means so much for me.

Who Is He?

Who is he? He is so mysterious. I even not knowing him, I mean, knowing his deeper than usual. At start, I was doing nothing; not paying attention to anything surrounds me. Everything was usual, nothing attract me, even him. I thought he was as the same as them, no different. Come and go for some purpose. When I listened, everything was the same, nothing different, no suspicious, at all. Then, I started to look into my heart. Are everything goes right? It’s not supposed to be this way, I thought. I liked him. Was that wrong? No. I do have reasons. He should not made me liked him. How come? I didn’t know. If only he tells me. One day, our eyes met. I felt this not normal feeling. Was it wrong? I’m not getting used to it. He saw me couple of times, while he did the talking. Then, speechless, I caught his eyes looking at me. I ask to myself, is that wrong? Was he always did this to every girl? Was he done this for purpose? At the beginning, I think no. but, when I just started to forget him, things started to take my thought back to him. I did speak to him. This time, I lost my conscious. I even forget what I’ve just said, his talking either. What is wrong with me? Something brought me to these magical feelings. I could see clear. His smile, and the way he listened while I did the talking. I forgot, but it seems just yesterday. I feel so stupid. I have to forget him. No, no. All things were beyond my expectation. I was trying not to get his attention. It’s a big mistake. He keeps looking at me. It’s another different looks. Was it? Or it’s just my feelings? I’ve try harder not to get attention. I was wrong, again. I adore him. Yes, he bought my hope back. What will happen if I do have a relationship with him? The last time we met, made me thought, who was he?

Tuesday, April 24, 2007

About A Boy

About a boy. He is someone extraordinary. He is the one who take something usual to the next level of thinking. He is someone who makes me wanna love. He is the one who change me.