Wednesday, June 22, 2016

Secangkir teh hangat

Bolehkah aku menikmati secangkir teh di tengah cuaca hujan ini? Secangkir teh hangat saja.

Bolehkah aku menikmati kue bolu lemon di piring kecil itu? Sepotong saja agar laparku tertunda.

Bolehkah aku melihat ke luar jendela? Hanya sesaat menikmati indah pemandangan di luar sana.

Bolehkah aku membuka jendela? Agar bisa kuhirup udaranya yang sejuk.

Bolehkah aku memanggil beberapa sahabatku? Aku ingin mereka menikmati apa yang kunikmati saat ini.

Bolehkah kamu tetap berada di sisiku? Agar bertambah satu orang temanku.

Tuesday, June 14, 2016

Biarkan ku bernafas

Sungguh hari yang panas. Kuberjalan jauh mencari sumber kehidupan.
Dari jauh terlihat aliran sungai itu. Tersenyum, dengan semangat ku berlari.
Kupegang airnya. Hangat di antara jemari.
Rasanya ingin mendinginkan seluruh tubuh. Ke dalamnya pun ku masuk.
Berendam. Menikmati aliran yang menyejukkan.
Kubiarkan diriku terbawa. Terapung sambil melihat pepohonan di sisi sungai.
Tiba-tiba arus semakin deras. Terlambat ku menepi.
Coba meraih apa saja. Dan kugapai sebuah akar rambat.
Arus semakin kuat, deras, kencang. Peganganku menguat.
Air semakin tinggi. Aku tenggelam.
Kucoba naik untuk mendapatkan udara. Satu nafas panjang.
Air kembali menyusut, namun arus tetap kencang. Dengan tubuh kuyup kukumpulkan setiap tenaga.
Berusaha ke tepi. Berpegangan pada akar.
Suara gemuruh itu datang. Arus yang kuat terlihat mendekat.
Kupegang erat akar. Tubuhku hampir dibawanya serta.
Sedikit lagi tanganku terlepas. Tak kuat menahan pegangan.
Di dalam, air menggoncang tubuh. Tertampar oleh batu dan kayu.
Keras. Sakit.
Tolong, kuingin bernafas lagi. Tolong, kuingin berlari lagi.
Peganganku jadi semakin kuat. Yang kutunggu hanya arus yang tenang.

Pic: phys.org